Monday, August 15, 2016

Jadi "Bridemaids" aja dulu, Jadi "Bride" kemudian

Beberapa hari lalu, media sosial sempat ramai dengan meme "17 tahun udah nikah , kalian yang 25++ dah ngapain aja?"
yhaaa...kurang lebih begitu bunyinya.

Tentu saja meme tersebut menimbulkan pro dan kontra, bagi yang pro menyetujui gagasan menikah muda dengan alasan-alasan yang kuat, yang kontra menyatakan umur bukan ukuran untuk menikah atau beberapa selebtweet menyikapi meme tersebut dengan tanggapan pribadi seperti, nikah itu kalau udah siap, kalau udah ada  calonnya dan lain lain dan lain lain.....

Gue bukan ingin menunjukan di pihak mana gue berdiri , di pihak pro atau kontra. Tulisan ini lebih ke isi pikiran aja, karena gue sendiri belum menikah dan bukan kapasitasnya gue untuk menggurui ini itu. Ini cuma tulisan yang ditulis dari seorang gadis 23 tahun yang masih sering kondangan tanpa partner atau beberapa kali bantuin yang nikahan (selanjutnya gue bahasain "bridemaids", padahal arti sebenernya sih pengiring pengantin :P )

Friday, August 12, 2016

The Girl On The Train (yang Ia lihat dari kereta)




Novel yang ditulis oleh Paula Hawkins ini cukup menarik minat baca gue hanya dari sampulnya 
*P.s  yang gue punya ini sampul versi novel Indonesia.
gambar yang terlihat adalah kompatemen kereta, dan bercak darah di tulisan THE GIRL ON THE TRAIN yang menggunakan efek panning, menandakan pergerakan kereta (dalam novel ini disebut commuter) yang cepat. 
Karena penasaran , gue baca bagian belakang yang menuliskan sinopsisnya : 

Rachel menaiki kereta komuter yang sama setiap pagi. Di pinggiran London , keretanya akan berhenti di sebuah sinyal perlintasan, tepat di depan rumah nomor lima belas . Tempat sepasang suami istri menjalani kehidupan yang tampak bahagia bahkan nyaris sempurna. Pemandangan ini mengingatkan Rachel pada kehidupannya sendiri yang sebelumnya sempurna .
Pada suatu pagi Rachel menyaksikan sesuatu yang mengejutkan . Hanya semenit sebelum kereta bergerak, tapi itupun sudah cukup . Kini pandangannya terhadap pasangan itu pun berubah. 


Poin plus ! sinopsisnya ok.
Poin plus ! akan difilmkan oleh DreamWorks bulan Oktober 2016.

Cocok lah buat bacaan di kosan, ok gue beli  dan novel ini pun masuk ke dalam tas plastik berbayar 200 rupiah .

Monday, July 11, 2016

i'm not a traveler



Lokasi Foto : Pantai Belitung Sumatra Selatan

Indonesia itu Indah,
coba liat sekeliling kita aja , gak harus pergi jauh-jauh,
Tuhan sudah menyediakan keindahan yang sesungguhnya tanpa kita sadari dan tanpa kita minta.

Banyak orang disebut atau menyebut dirinya Traveler atau Backpacker karena sering berlibur, berpergian , dan berpetualang ke suatu tempat. Well, dengan sangat jelas gue bukan keduanya (Backpacker maupun Traveler) gue hanya orang dengan cetek pengalaman berpergian kesana-kesini, pergi kalau ada tiket murah, promo dan gratisan  Bahkan itupun gak wajib, gue juga bukan orang yang mewajibkan untuk berpergian untuk berlibur selepas kerja, sebagai pekerja office hours  yang dapat jatah cuti 12 hari dan libur sabtu, minggu , gue biasa menggunakannya untuk istirahat di Rumah, hang out , cari kegiatan baru, nemenin emak pergi dan nonton . Akun IG gue yang namanya @tan_aulika belum dipenuhi foto-foto landscape atau panorama level ribuan likes (yeeelaaaaah... ratusan juga gak nyampe) ya, cuma ada beberapa foto pas lagi jalan-jalan paling banyak 32 likes .______.

Seperti yang gue bilang tadi, trip gue tergantung beberapa faktor berikut :

1. Uang,
Karena gue tidak rajin menabung (jangan dicontoh ya adik-adik), gue biasanya baru mulai nabung kalau udah ketahuan destinasinya kemana, berangkat tanggal berapa. Makanya booking penginapan  atau tiket, sangat disesuaikan dengan isi kantong seadanya atau ya kalau rejeki bisa ditalangin sama temen yang mau trip juga :) 
Misalnya, jarak keberangkatan 1 bulan lagi ya mau gak mau 1 bulan gue baru nabung sekuat-kuatnya, 
Sungguh sangat terpujilah orang-orang yang sudah menyisihkan bagian dari penghasilannya dan menjadwalkan waktunya untuk trip . Bahkan ada beberapa teman gue yang  punya target dalam satu tahun dia akan kemana aja, dengan siapa, berapa dan kapan. Sungguh mereka ada dalam peringkat tagline "my trip my adventure"
Nah gue : belum ada tujuan, = belum nabung

Saturday, April 30, 2016

Resensi Career Of Evil (Titian Kejahatan)

Judul : Career Of Evil (Titian Kejahatan)

Penulis : Robert Galbraith 

Alih Bahasa : Siska Yuanita 

Tahun terbit : 2015

Bahasa :    Indonesia

Jumlah halaman : 552

Penerbit : Gramedia Pustaka 

So, novel ketiga yang mengisahkan petualangan detektif bernama Cormoran Strike ini diawali dengan potongan lirik lagu "Career Of Evil" dari Grup Band Blue Oyster Cult . Bagi kalian generasi 90an, sama sekali gregepan ,lagu siapa sih ini ? ? ?
Seolah menjadi lagu ritual, tiap potongan lirik dan judul lagu Blue Oyster Cult menjadi pembuka di setiap bagian cerita berdarah, bertulang dan berdaging (-baca, mutilasi).  Sepertinya Rowling mulai enggan bermain-main dengan kisah penyelesaian kasus klien Strike, novel ini malah mengisahkan kasus yang menimpa Strike yang tak kalah berbahaya dari dua buku sebelumnya. Mungkin ini sebagai bentuk peralihan agar pembaca tidak bosan, atau sebagai peringatan bahwa tak selamanya seorang detektif partikelir, mantan tentara Angkatan Darat itu selalu bisa merasa aman. Strike yang berhasil lolos dari bom Afghanistan, ternyata belum 100% lolos  dari masa lalunya yang begitu mencekam. Entah bagaimana novel ini ketiga ini ditulis, tapi bagian-bagiannya seperti sudah disimpan pada novel pertama dan kedua, seperti potongan daging beku yang disimpan di freezer yang akan dikeluarkan pada waktunya.

Lirik lagu Blue Oyster Cult dikirimkan bersama potongan kaki perempuan yang dialamatkan kepada Robin , Asisten Strike. Seolah menyindir, pengirim ini jelas mengetahui sebelah kaki Strike yang diamputasi karena terkena bom di Afghanistan. Sebelum Strike dan Robin berhasil menghentikannya, pembunuh kembali beraksi dengan sepak terjang yang semakin parah.

Mimpi Buruk
Penerjemah novelnya, Siska Yuanita bilang, Career Of Evil ini membawanya mimpi buruk dengan emosi yang naik turun saat menerjemahkannya, bahkan Rowling mengakui dia mengalami mimpi buruk berkali-kali saat menyelesaikan tulisan ini. Semua orang yang sudah membaca novelnya dalam diskusi tersebut menyatakan hal yang sama, emosi naik turun, mimpi buruk, page turner dan rasa kesal begitu mendapati mereka sudah membuka halaman terakhir.


Emosi Naik Turun 
emosi kita akan naik turun , seolah-olah kita bisa rasain kegelisahan Strike, perasaan Robin yang mulai baper. Kadang ditengah-tengah baca , saya ngerasa ikutan capek nyari pembunuh dan pas mau buka buku lanjut lagi, gak tau kenapa ada perasaan gak siap ketemu kenyataan yang sebenarnya, takut ketemu tiba-tiba sama si pembunuh. Kenapa ya? padahal jelas-jelas si pembunuh ada di London, Indonesia masih aman !

Resensi : The Cuckoo's Calling (Dekut Burung Kukuk)










Judul : The Cuckoo's Calling (Dekut Burung Kukuk)
Penerbit : Gramedia Pustaka
Edisi : Soft Cover
Tahun Terbit : 2013
Penulis : Roberth Galbraith
Alih bahasa : Siska Yuantita , Aan Mansyur
Jumlah halaman : 520

Novel ini diawali dengan tewasnya Seorang Supermodel bernama Lula Landry, yang ditemukan jatuh dari balkon kamarnya. Hasil penyelidikan polisi menyatakan bahwa Lula Landry tewas karena bunuh diri, namun kenyataan tersebut tidak dipercayai oleh Kakak korban, John Bristow. Berangkat dari ketidakpercayaan tersebut , John menyewa jasa Cormoran Strike, seorang detektf partikelir yang hidupnya sedang dirundung banyak masalah. Bagaikan mendapat angin segar , Strike menerima kasus ini dengan bayaran yang menggiurkan. Namun ternyata bayaran tersebut tidak sepadan dengan kenyataan pahit dan gelap yang justru bisa mengancam hidupnya.
Keterbatasan fisik Strike yang berkaki satu bukan halangan baginya dalam penyelidkan, Ia mampu mengungkap informasi dari kerabat-kerabat terdekat Lula  yang membuat kita merasa berpetualang dalam dunia gemerlap selebritas London, didukung oleh teman-temannya yang unik dan hebat dari Angkatan Darat, kepolisian dan jaringan lain , sepak terjang Strike tentu tidak diragukan lagi. 
Pada awalnya Strike merasa pencariannya mungkin tidak akan membuahkan hasil, karena kepercayaannya akan kredibilitas kepolisian yang mana mungkin melewatkan satu titik ganjil dalam kasus ini. Bila hasilnya adalah Lula memang bunuh diri, tentu tidak ada fakta lain, Tapi ini menjadi tantangan bagi Strike untuk menyelidiki semua detail-detail yang barangkali bisa menjadi peluang adanya fakta lain yang tentu akan membuat kita shock  di akhir cerita kriminal ini. 

Bukan detektif biasa
Menjadi seorang detektif tidak melulu dengan kacamata ataupun kaca pembesar, dalam buku ini Strike malah digambarkan memiliki perawakan besar, dengan brewok sana sini, tanpa kacamata maupun kaca pembesar. Sesekali untuk menyelidiki orang, Ia menggunakan mesin pencarian Google sedangkan kemampuannya untuk menginvetigasi dan menyelidiki diperolehnya dari pengalaman sebagai Cabang Investigasi khusus di Angkatan Darat.

Detektif yang akrab dengan dunia hiburan
Memiliki latar belakang militer, bukan berarti membuat Strike menjadi sosok yang kaku. Terlahir dari seorang wanita supergroupie dengan hubungan tidak sah  dengan penyanyi rock terkenal yang menjadi ayah Strike , menyebabkan hidup dalam keadaan nomaden dan masuk ke segala jenis pergaulan. Tak hanya itu, mantan tunangan Strike juga seorang Supermodel  cantik yang memaksanya makin akrab dengan popularitas kehidupan dunia hiburan. 

 Ditulis oleh Penulis Fenomenal
Kebanyakan penulis serial detektif , paten dan melekat dengan hasil karyanya seperti Agatha Christie, S Mara GD, atau Herge. Tapi siapa sangka penulis Serial detektif Cormoran Strike ini adalah JK. Rowling yang sengaja menggunakan nama samaran Robert Galbraith, Ia ingin terlepas dari bayang-bayang Harry Potter. Seolah-olah Harry Potter milik Rowling dan Cormoran Strike milik Galbraith. Walaupun Rowling terkenal sebagai penulis  Harry Potter yang terkenal fantasy, ternyata Ia juga memiliki rasa gelap yang dapat dituliskannya seolah menjadi nyata. Well, sekali lagi Rowling membuktikan sihirnya dalam sebuah buku dengan kisah yang berbeda :)

Rating 4,0/5,0
Foto : Tannya